Mengetahui keefektifan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) pada kemampuan pemecahan masalah matematika menghitung keliling dan luas bangun segitiga

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan pelajaran yang sangat menentukan keberhasilan peserta didik. Tolak ukur ini berlaku di tingkat pendidikan dasar sampai tingkat lanjutan. Indikasi yang terlihat pada  ujian akhir nasional, matematika merupakan mata pelajaran yang diujikan. Selain itu, matematika oleh ”sebagian” siswa dianggap sulit, rumit, bahkan momok. Berdasarkan kenyataan ini maka diperlukan adanya inovasi pembelajaran yang diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar anak. Pendidikan merupakan suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.  Dengan demikian matematika yang merupakan bagian penting dalam proses pendidikan di sekolah  diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan yang lebih nyata menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan yang penekanannya pada penguasaan konsep serta keterampilan dalam penerapan matematika yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pengalaman di sekolah,  biasanya siswa yang kurang berminat belajar matematika dikarenakan  mereka mengalami kesulitan untuk memahami konsep-konsep maupun berbagai rumus dalam matematika.
Matematika mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak inilah yang merupakan kendala bagi siswa dalam belajar matematika. Selain itu, dalam pembelajaran di kelas guru tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri konsep-konsep matematika. Siswa hanya menghafalkan puluhan rumus matematika kemudian mengerjakan soal secara prosedural tanpa adanya penalaran dan pemahaman konsep yang kuat.
Secara umum apabila siswa belajar matematika dengan cara menghafal akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu supaya  pembelajaran matematika dapat lebih bermakna harus ditekankan pada keterkaitan konsep-konsep matematika dengan pengalaman yang sudah dimiliki oleh siswa.
Permasalahan-permasalahan yang terjadi sebagaimana disebutkan di atas dapat diatasi melalui pendekatan yang mendukung proses pembelajaran matematika yang menyenangkan dan bukan menyeramkan. Pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi sekaligus mempermudah pemahaman siswa dalam belajar matematika. Salah satu pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme dan berorientasi pada dunia nyata serta menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah pendidikan matematika realistik (PMR).
Dengan memahami pendekatan ini memungkinkan prestasi belajar matematika siswa dapat mencapai tujuan yang digariskan dalam pembelajaran matematika di kelas. Dunia riil adalah segala sesuatu di luar matematika. Ia bisa berupa mata pelajaran lain selain matematika atau bidang ilmu yang berbeda dengan matematika atau pun kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita. Dunia riil diperlukan untuk mengembangkan situasi kontekstual dalam menyusun materi kurikulum. Materi kurikulum yang berisi rangkaian soal-soal kontekstual akan membantu proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Dalam PMR, proses belajar mempunyai peranan penting. Rute belajar (learning route) dimana siswa mampu menemukan sendiri konsep dan ide matematika, harus dipetakan, sebagai kesempatan kepada siswa untuk memberikan kontribusi terhadap proses belajar mereka.
Dari uraian tersebut, peneliti merasa perlu meneliti tentang : Efektivitas Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika pada kompetensi dasar  menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam masalah di kelas VII SMP N 1 Bilah Barat Tahun Pelajaran 2011/2012.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagaimanakah penerapan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) pada siswa dan guru matematika kelas VII SMP N 1 Bilah Barat?
2.      Bagaimanakah keefektifan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) pada kemampuan pemecahan masalah matematika dalam menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat pada siswa kelas VII SMP N 1 Bilah Barat?
1.3 Pemecahan Masalah
           Adapun yang menjadi pemecahan masalah dalam penelitian ini yaitu :
1.      Pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan model matematika realistik yang lebih mengarah pada pembelajaran dengan konsep dunia nyata.
2.      Menggunakan model dan metode mengajar yang sesui dengan materi pelajaran.

1.4 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah, dan untuk menjawab permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui penerapan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) pada siswa dan guru matematika kelas VII SMP N 1 bilah Barat.
2.      Mengetahui keefektifan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) pada kemampuan pemecahan masalah matematika menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat siswa kelas VII SMP N 1 Bilah Barat.

1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat :
1.      Bagi peneliti, peneliti mampu mengidentifikasi kelemahan penyebab terhambatnya kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMP. Peneliti mampu mengetahui dan memahami bagaimana kemampuan pemecahan masalah matematika menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat siswa SMP ketika diterapkan pembelajaran dengan Pembelajaran Matematika Realistik.
2.       Bagi guru, dapat membantu tugas guru dalam meningkatkan kemampuan pemecaham masalah siswa selama proses pembelajaran di kelas secara efektif dan efisien. Dapat memberikan masukan bagi guru, yaitu cara untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
3.      Bagi siswa, dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika yang dipelajari. Siswa dapat membangun kemampuannya sendiri. Pelaksanaan pembelajaran matematika realistik diharapkan meningkatkan motivasi minat siswa terhadap mata pelajaran matematika.
4.      Bagi sekolah, secara tidak langsung akan membantu memperlancar proses belajar mengajar.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1  Efektivitas dan Kemampuan Pemecahan Masalah
Efektivitas berasal dari kata efektif, yang berarti dapat membawa hasil, berhasil guna, ada efeknya, pengaruhnya, akibatnya, atau kesannya. Suasana pembelajaran yang efektif menurut PP 19 tahun 2005 SNP menyebutkan bahwa suasana belajar di kelas itu harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, inovatif dan menemukan sendiri, jadi pembelajaran yang efektif mempunyai karakteristik dimana siswa melihat, mendengarkan, mendemonstrasikan, bekerja sama, menemukan, dan membangun konsep sendiri.
Efektivitas pembelajaran banyak bergantung kepada kesiapan dan cara belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri, baik yang dilakukan secara mandiri maupun kelompok. Dalam hal ini, sebagai guru kita perlu  menekankan pentingnya upaya pengembangan aktivitas, kreativitas, dan motivasi siswa di dalam proses pembelajaran. Menurut Gibbs dalam Mulyasa (2007: 262) peserta didik akan lebih kreatif jika:
a.       Dikembangkannya rasa percaya diri pada peserta didik dan mengurangi rasa takut.
b.      Memberi kesempatan kepada seluruh peserta didik untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas dan terarah.
c.       Melibatkan peserta didik dalam menentukan tujuan belajar dan evaluasinya.
d.      Memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter.
e.       Melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.
Kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu, dengan imbuhan ke-an kata mampu menjadi kemampuan yaitu berarti kesanggupan atau kecakapan. Pemecahan masalah adalah proses penanggulangan suatu rintangan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan menurut Wardhani (2005:93) “ pemecahan masalah adalah proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal ”. Jadi, kemampuan pemecahan masalah adalah kecakapan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal.

2.2              Pembelajaran Matematika Reaslistik (PMR)
2.2.1.      Apakah PMR Itu?
Pendidikan matematika realistik atau realistic mathematics education (RME) mulai berkembang karena adanya keinginan meninjau kembali pendidikan matematika di Belanda yang dirasakan kurang bermakna bagi siswa. PMR merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Wijdeveld dan Goffre sebagai pemrakarsa ide adanya pembelajaran realistik dalam matematika. Selanjutnya Freudental  mengembangkan model PMR yang berkembang hingga saat ini. Pendidikan matematika realistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika, sehingga siswa mempunyai pengertian kuat tentang konsep matematika. Berdasarkan uraian  tersebut di atas pendidikan matematika realistik pada prinsipnya adalah menemukan kembali ide-ide melalui bimbingan guru dan tidak mengacu pada realitas, akan tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa. Indonesia telah mengadopsi pendidikan matematika realistik, sama halnya dengan negara lain yaitu Inggris , Jerman, Denmark, Spanyol, Portugal, Afrika Selatan, Brazilia, Amerika Serikat, Jepang dan Malaysia. Salah satu hasil yang dicapai oleh negara-negara tersebut adalah prestasi siswa yang meningkat, baik secara nasional maupun internasional.

2.2.2 Prinsip PMR
Munarsih (2008: 3) mengemukakan bahwa :

salah satu prinsip dari RME adalah pendekatan RME memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang dapat dikontruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa, tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut. Kondisi yang diperlukan untuk proses belajar melalui RME itu mencakup kondisi yang fleksibel (bebas untuk berorientasi) lingkungan yang responsive, kondisi yang memudahkan untuk memusatkan perhatian dan yang bebas tekanan.
Sedangkan perinsip-prinsip  pendidikan matematika realistik  menurut  Heuvel-Panhuizen dikutip Kemendiknas (2010: 10) adalah sebagai berikut.
1.      Perinsip aktivitas, yaitu matematika adalah aktivitas manusia. Pembelajar harus aktif baik secara mental maupun fisik dalam pembelajaran matematika.
2.      Perinsip relitas, yaitu pembelajaran seyogyanya dimulai dengan masalah-masalah yang relistik atau dapat dibayangkan oleh siswa.
3.      Perinsip berjenjang, artinya dalam belajar matemtika siswa melewati berbagai jenjang pemahaman,yaitu dari mampu menemukan solusi suatu masalah kontekstual atau relistik secara informal, melalui skematisasi memperoleh pengetahuan tentang hal-hal yang mendasar sampai mampu menemukan solusi suatu masalah matematis secara formal.
4.      Perinsip jalinan, artinya berbagai aspek atau topik dalam matematika jangan dipandang dan dipelajari sebagai bagian-bagian yang terpisah, tetapi terjalin satu sama lain sehingga siswa dapat melihat hubungan antara materi-materi itu secara lebih baik.
5.      Perinsip interaksi, yaitu matematika dipandang sebagai aktivitas sosial. Siswa perlu dan harus diberikan kesempatan menyampaikan strateginya dalam menyelesaikan suatu masalah kepada yang lain untuk ditanggapi, dan menyimak apa yang ditemukan orang lain dan strateginya menemukan itu serta menanggapinya.
6.      Perinsip bimbingan, yaitu siswa perlu diberi kesempatan untuk menemukan (reinvention) pengetahuan matematika terbimbing.
Dari keenam prinsip pembelajaran diatas dapat disimpulkan terdapat 5 prinsip utama dalam pembelajaran matematika realistik, yaitu:
·         Didominasi oleh masalah- masalah dalam konteks, melayani dua hal yaitu sebagai sumber dan sebagai terapan konsep matematika.
·         Perhatian diberikan pada pengembangan model”situasi skema dan simbol”.
·         Sumbangan dari para siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif.
·         Interaktif sebagai karakteristik diproses pembelajaran matematika.
·         Intertwinning(membuat jalinan) antar topik atau antar pokok bahasan.
Gravemeijer( 2007: 10) menyebutkan tiga prinsip kunci dalam pendekatan realistik, ketiga kunci tersebut adalah:
1.      Penemuan kembali secara terbimbing/ matematika secara progresif(Gunded Reinvention/ Progressive matematizing). Dalam menyeleseikan topik- topik matematika, siswa harus diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama, sebagai koknsep- konsep matematika dikemukakan. Siswa diberikan masalah nyata yang memungkinkan adanya penyeleseian yang berbeda.
2.      Didaktif yang bersifat fenomena(didaktial phenomology) topik matematika yang akan diajarkan diupayakan berasal dari fenomenan sehari-hari.
3.      Model yang dikembangkan sendiri(self developed models) dalam memecahkan ‘contextual problem”, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan model mereka sendiri. Pengembangan model ini dapat berperan dalam menjembatani pengetahuan informal dan pengetahuan formal serta konkret dan abstrak.


2.2.3 Karakteristik PMR

Sesuai dengan sifat matematika realisitik yang berbasis masalah nyata, maka strategi umum  pendidikan matematika realistik meliputi pemberian masalah untuk dipecahkan pebelajar, memberikan kesempatan kepada pebelajar untuk mengkonstruksi sendiri pemecahan masalah, dan presentasi hasil pemecahan masalah dilanjutkan dengan diskusi.  Untuk melaksanakan sebuah proses yang sesuai dengan strategi pembelajaran matematika realistik, maka guru harus memahami karakteristik dari PMR.
Karakteristik PMR adalah menggunakan konteks ”dunia nyata”, model-model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif dan keterkaitan. Menurut Grafemeijer (2007: 13) ada lima (5) karakteristik pembelajaran matematika realistik. Selengkapnya karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.      Menggunakan masalah kontekstualMasalah konsektual berfungsi
sebagai aplikasi dan sebagai titik tolak dari mana matematika yang digunakan dapat muncul. Bagaimana masalah matematika itu muncul(yang berhubungan dengan kehidupan sehari- hari)
2.      Menggunakan model atau jembatanPerhatian diarahkan hanya kepada
pengembangan model, skema, dan simbolisasi dari pada hanya untuk
mentrasfer rumus. Dengan menggunakan media pembelajaran siswa
 akan lebih faham dan mengerti tentang pembelajaran aritmatika sosial.
3.      Menggunakan kontribusi siswaKontribusi yang besar pada saat proses belajar mengajar diharapkan dari konstruksi murid sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal ke arah metode yang lebih formal. Dalam kehidupan sehari- hari diharapkan siswa dapat membedakan pengunaan aritmatika sosial terutama pada jual beli. Contohnya: harga baju yang didiskon dengan harga baju yang tidak didiskon.
4.      InteraktivitasNegosiasi secara eksplisit, intervensi, dan evaluasi sesama murid dan guru adalah faktor penting dalam proses belajar secara konstruktif dimana strategi informal siswa digunakan sebagai jembatan untuk menncapai strategi formal. Secara berkelompok siswa diminta untuk membuat pertanyaan kemudian diminta mempresentasikan didepan kelas sedangkan kelompok yang lain menanggapinya. Disini guru bertindak sebagai fasilitator.
5.      Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya(bersifat holistik)Aritmatika sosial tidak hanya terdapat pada pembelajaran matematika saja, tetapi juga terdapat pada pembelajaran yang lainnya, misalnya pada akutansi, ekonomi, dan kehidupan sehari- hari.


2.2.4 Langkah-langkah PMR
Tujuan pembelajaran matematika adalah pencapaian transfer belajar. Salah satu aspek penting dalam pencapaian transfer belajar matematika itu agar siswa menguasai konsep-konsep matematika, dan dapat mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah sehari-hari. Dalam pembelajaran matematika selama ini, siswa dianggap belum tahu apa-apa dan gurulah yang mempunyai pengetahuan dan pemegang otoritas tertinggi .
Materi pembelajaran matematika diberikan dalam bentuk jadi dan itu terbukti tidak dapat membuat siswa memahami dengan baik apa yang mereka pelajari. Penguasaan dan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika lemah, sehingga prestasi belajar matematika rendah.
Sudah saatnya paradigma mengajar diganti dengan paradigma belajar. Perubahan paradigma pembelajaran dari pandangan pembelajaran yang berpusat pada guru ke pembelajaran yang berpusat pada siswa membawa konsekuensi perubahan yang mendasar pada proses pembelajaran di kelas. Perubahan tersebut menuntut agar guru tidak lagi sebagai sumber informasi yang serba tahu segalanya, melainkan sebagai teman belajar. Siswa dipandang sebagai individu yang aktif dan memiliki kemampuan untuk membangun pengetahuannya sendiri. Dengan menemukan dan membangun sendiri pengetahuannya siswa akan lebih memahami apa yang telah dipelajarinya, hal ini juga akan berpengaruh pada sejauh mana siswa dapat menguasai konsep-konsep matematika.
Pembelajaran yang sesuai dengan perubahan tersebut dan sesuai dengan tujuan pendidikan pembelajaran matematika, diperlukan suatu pengembangan materi pelajaran matematika yang difokuskan pada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari (dunia nyata), dengan demikian pendekatan pendidikan matematika realistik adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan perubahan tersebut.
Agar aspek-aspek dan peran guru dalam pendidikan matematika realistik sesuai dengan yang diharapkan, maka langkah-langkah dalam pembelajaran yang mengacu pada PMR hendaknya terdiri dari 4 langkah. Langkah-langkah di dalam proses pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik sebagaimana dijelaskan Kamdi (2008: 32) adalah sebagai berikut :
1.      Langkah pertama : memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.
2.      Langkah kedua : menjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.
3.      Langkah ketiga : menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.
4.      Langkah keempat : membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran.
5.      Langkah kelima : menyimpulkan, yaitu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.

2.2.5      Kelebihan PMR
Kelebihan PMR menurut penulis yaitu siswa lebih mudah memahami materi karena materi yang diisajikan dikaitkan dengan konsep-konsep/objek  dunia nyata. Siswa lebih aktif  belajar dengan adanya objek-objek yang dijadikan bahan ajar untuk dikotak-katik siswa dalam menemukan konsep-konsep matematika. Menurut Suwarsono (2001: 5), terdapat beberapa kelebihan dari PMR antara lain :
1.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari-hari dan kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia.
2.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa.
3.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus  sama antara orang yang satu  dengan orang yang lain. Setiap orang dapat menemukan atau menggunakan cara sendiri, asalkan orang itu bersungguh-sumgguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut. Dengan membandingkan cara penyelesaian yang satu  dengan yang lain akan dapat diperoleh cara penyelesaian yang paling tepat.

4.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang utama, dan untuk mempelajari matematika orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk menemukan sendiri konsep-konsep matematika, dengan bantuan pihak lain yang sudah lebih tahu  (guru). Tanpa kemauan untuk menjalami sendiri proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi.

2.2.6 Evaluasi dan Penerapan
Bagi komponen pendidikan sekolah, pendidikan matematika realistik
bukanlah hal yang baru. Karena itu dalam pelaksanaannya evaluasi keberhasilan dan bagaimana pengimplementasiannya adalah menjadi tujuan yang diharapkan. Evaluasi yang digunakan disesuaikan dengan tingkat berpikir siswa. Sebuah ilustrasi yang dapat menunjukkan tingkat berpikir pebelajar secara longitudinal adalah model garis bilangan. Misalnya untuk mengevaluasi kemampuan pebelajar dalam menjumlahkan 36 dan 19 dapat dipilih beberapa cara berdasarkan kemajuan bertahap tingkat berpikir pebelajar dari yang rendah menuju tahap yang lebih tinggi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1)      Menggunakan butiran manik-manik berwarna, misalnya 36 butir putih dan 19 butir hitam dirangkai menjadi sebuah kalung. Pebelajar masih dalam tahap berpikir konkrit diberi kesempatan menghitung jumlah seluruh manik-manik tersebut.
2)      Untuk pebelajar yang telah mampu berpikir dalam taraf yang lebih tinggi, digunakan garis bilangan yang kosong untuk melakukan penambahan dan pengurangan.
3)      Pada taraf berpikir yang lebih tinggi, digunakan garis bilangan berganda.
4)      Modifikasi lain terhadap garis bilangan dapat digunakan untuk
membekali pengerjaan pembagian dan prosentase sebagai perluasan dari garis bilangan dibuat gambar empat persegi panjang yang dibagi menjadi 2 bagian dengan luas yang sama dan ditandai dengan bilangan yang menyatakan luas tiap bagian tersebut. Dibagian bawah tiap bilangan dicantumkan prosentase luasnya. Selanjutnya pebelajar akan
ditugaskan untuk menaksir luas daerah yang ditunjukkan.
Dengan demikian evaluasi yang dilakukan dapat disusun sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai melalui pembelajaran berdasarkan tahap pencapaian tingkat berpikir yang tepat untuk tingkat kelas belajar. Evaluasi yang dilakukan tidak hanya melalui tes saja, akan tetapi dilakukan pula selama proses belajar berlangsung. Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses interaksi yang terjajdi selama proses pemecahan masalah, presentasi yang disajikan pebelajaran dalam menemukan sesuatu dan diskusi berlangsungnya pemecahan masalah. Pebelajar dalam PMR juga dievaluasi kemampuannya melakukan refleksi, karena refleksi dapat mendorong pebelajar memiliki kemampuan melakukan matematisasi vertikal.
Model pembelajaran PMR dapat diterapkan disemua jenjang pendidikan sekolah, mulai tingkat sekolah dasar, menengah, bahkan perguruan tinggi sekalipun khususnya perguruan tinggi pencetak calon guru. Pada jenjang sekolah yang lebih rendah penekanannya pada matematisasi horizontal yang bertolak dari fakta dalam kehidupan nyata, sedangkan makin tinggi jenjang pendidikannya akan lebih menitikberatkan pada matematisasi vertikal yang bergerak dalam ranah simbul-simbul. Dengan cara ini guru matematika bersifat dan mengambil peran sebagai mediator, yaitu tidak serta merta menyuapi informasi kepada anak-anak didiknya.
        Adapun mengenai penskoran pada kemampuan pemecahan masalah, mengadopsi penskoran pemecahan masalah yang dikemukakan oleh Schoem dan Ochmke (dalam Harini, 2006:24) seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 2.1. Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah
Skor
Memahami Masalah
Merencanakan strategi penyelesaian
Melaksanakan Strategi Penyelesaian
Memeriksa kembali hasil
0
Salah menginterpretasikan/ tidak memahami soal/tidak ada jawaban
Tidak ada rencana strategi penyelesaian 
Tidak ada penyelesaian sama sekali
Tidak ada pengecekan jawaban/
hasil
1
Interpretasi soal kurang tepat/salah menginterpretasikan sebagian soal/mengabaikan kondisional
Merencanakan strategi penyelesaian   yang tidak relevan
Melaksanakan prosedur yang benar&mungkin menghasilkan jawaban yang benar tapi salah perhitungan/penyelesaian tidak lengkap
Ada pengecekan jawaban/
hasil tidak tuntas
2
Memahami soal dengan baik
Membuat rencana stratgi penyelesaian yg kurang relevan shg tidak dapat dilaksanakan/
salah
Melakukan prosedur/proses yg benar & mendapatkan hasil yang benar
Pengecekan dilaksanakan untuk melihat kebenaran proses
3

Membuat rencana strategi penyelesaian tapi tidak lengkap


4

Membuat rencana strategi penyelesaian yang benar dan mengarah pada jawaban yang benar


Skor maksimal
Skor maksimal
Skor maksimal
Skor maksimal
2
4
2
2

Keliling = panjang sisi 1 + panjang sisi 2 + panjang sisi 3


 
Rounded Rectangle: K = p + l + p + l = 2p + 2l = 2(p + l) 

Rounded Rectangle: Luas = p x l.
Rounded Rectangle: L = p x l = s x s = s2 
ll    L = s2
BAB III METODE PENELITIAN 
Indeks gain (g)
Kriteria Indeks gain
g> 0,7
Tinggi
0,3 < g ≤ 0,7
Sedang
g≤ 0,3
Rendah
Tingkat Penguasaan
Kriteria
90% - 100%
80% - 89%
65% - 79%
55% - 64%
0% - 54%
Kemampuan sangat tinggi
Kemampuan tinggi
Kemampuan sedang
Kemampuan rendah
Kemampuan sangat rendah
No
Nama Siswa
pretes
postes
1
Ahmad Alwi Harahap
55
60
2
Aji Lazuar
54
60
3
Andi Sanjaya
60
65
4
Aldi Syahputra Manalu
62
67
5
Alpido
67
68
6
David Saragih
80
85
7
Dedy Syahputra
65
66
8
Deny Hastuti
75
77
9
Dicky Ardiansyah Putra
70
74
10
Erwina Munthe
65
68
11
Fajar Al-kausar
57
60
12
Fitri Hayani Rambe
60
63
13
Husni Tambrin Siregar
65
69
14
Indah Sinurat
75
78
15
Junaidi Samosir
65
70
16
Mahyudin Rambe
65
68
17
Miranda Sprayogi
65
67
18
Mula Aman Rambe
70
73
19
Nurjamilah Rambe
65
68
20
Primadani
60
62
21
Rahmat Syahputra
60
63
22
Ricky Promansyah
65
67
23
Rifky Ardyansyah Pohan
55
56
24
Rusiani
70
72
25
Siti Rosida
65
68
26
Suci Cantika Ritonga
55
57
27
Supriono
40
45
28
Yogi Awaludin
65
68
29
Yolanda Kristina
75
77
30
Yuda Ramadani
35
43
31
Yuni Kartika
20
22






No
NAMA SISWA
Pretes
Postes
1
Ahmad Alwi Harahap
74
85
2
Aji Lazuar
70
80
3
Andi Sanjaya
75
85
4
Aldi Syahputra Manalu
75
75
5
Alpido
75
90
6
David Saragih
85
100
7
Dedy Syahputra
75
90
8
Deny Hastuti
75
80
9
Dicky Ardiansyah Putra
80
95
10
Erwina Munthe
70
75
11
Fajar Al-kausar
55
60
12
Fitri Hayani Rambe
66
70
13
Husni Tambrin Siregar
70
80
14
Indah Sinurat
80
85
15
Junaidi Samosir
65
75
16
Mahyudin Rambe
53
54
17
Miranda Sprayogi
70
75
18
Mula Aman Rambe
75
80
19
Nurjamilah Rambe
70
75
20
Primadani
65
70
21
Rahmat Syahputra
65
75
22
Ricky Promansyah
70
75
23
Rifky Ardyansyah Pohan
35
62
24
Rusiani
75
90
25
Siti Rosida
75
85
26
Suci Cantika Ritonga
60
75
27
Supriono
58
62
28
Yogi Awaludin
65
80
29
Yolanda Kristina
75
85
30
Yuda Ramadani
74
75
31
Yuni Kartika
68
70




No
Aspek Pembeda
SIKLUS I
SIKLUS II
pretes
postes
pretes
postes
1
Rata-rata kelas
61,45
64,71
69,13
77,84
2
Jumlah siswa yang tuntas
18
19
26
27
3
Jumlah siswa yang tidak tuntas
13
12
5
4
4
Persentase Ketuntasan Klasikal
58,06%
61,29%,
83,87%
87, 10%,
Yayasan Labuhanbatu. 2012. Panduan menyusun skripsi. Rantauprapat

Schoem dan Ochmke (dalam Harini, 2006:24)

2.2    Tinjauan Materi Tentang Segitiga dan Segiempat
Materi pembelajaran yang diambil oleh peneliti adalah pokok bahasan Segitiga dan Segiempat (segitigasegiempat tentang jajar genjang dan persegi panjang). Adapun bahasan yang disampaikan sebagai berikut.
a.       Sifat, pengertian, luas dan keliling segitiga
·         Segitiga merupakan bangun geometri yang dibentuk oleh tiga (3) buah garis saling bertemu dan membentuk tiga (3) buah titik sudut.
·         Bangun segitiga dilambangkan dengan ∆.
·         Jumlah sudut pada segitiga besarnya 180.
 A


                            B                                      C
                                    Gambar 2.1. Segitiga

b.      Jenis-jenis segitiga :
Segitiga sama sisi
·         Segitiga Sama Sisi mempunyai tiga (3) sisi sama panjang.
·         mempunyai tiga sudut sama besar yaitu 60. 
·         mempunyai tiga simetri lipat.
·         mempunyai tiga simetri putar.
Segitiga Sama Kaki
·         mempunyai dua sisi yang berhadapan sama panjang.
·         mempunyai satu simetri lipat.
·         mempunyai satu simetri putar.
Segitiga Siku-Siku
·         mempunyai dua sisi yang saling tegak lurus.
·         mempunyai satu sisi miring.
·         salah satu sudutnya adalah sudut siku-siku yaitu 90.
·         tidak mempunyai simetri lipat dan putar.
   A                               R                     Z


                     B                                             C     P              Q        X               Y
                                    (a)                                (b)                      (c)
Gambar 2.2 (a) Segitiga Sama Sisi, (b) segitiga sama kaki, (c) segitiga siku-siku
Rumus Keliling segitiga


Sisi 1                             sisi 2
            Sisi 3
Gambar 2.3 keliling segitiga
                                                               
                  Rumus Luas Segitiga                                               tinggi (t)      
     
                                                                              Alas (a)
Gambar 2.4 luas segitiga
c. Sifat dan pengertian persegi panjang dan persegi
1). Persegi panjang
Persegi panjang adalah jajar genjang dengan empat sudut siku-siku.
            Dua sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar.
              D                                           C

              A                                          B
Gambar 2.5 Persegi Panjang

Dari gambar di atas diperoleh sifat persegi panjang yaitu
1.      sisi-sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar.
2.      keempat sudutnya sama besar dan siku-siku (900).
3.      kedua diagonalnya sama panjang dan membagi sama panjang.
(Cunayah, 2005: 274-275)
Dari sifat-sifat tersebut, dapat disimpulkan bahwa persegi panjang adalah segiempat dengan sisi-sisi berhadapan sama panjang dan sejajar serta besar setiap sudutnya sama besar dan siku-siku.

 2). Persegi
Persegi adalah persegi panjang yang keempat sisinya kongruen.
            D                           C

             A                          B
Gambar 2.6. Persegi



Sifat persegi yaitu :
1.      keempat sisinya sama panjang.
2.      keempat sudutnya sama besar dan siku-siku (900).
3.      setiap sudutnya dibagi dua sama besar oleh diagonalnya dan kedua diagonal persegi saling berpotongan tegak lurus (Cunayah, 2005: 278-279).
Dari sifat-sifat tersebut, dapat disimpulkan bahwa persegi adalah segiempat yang keempat sisinya sama panjang dan besar setiap sudutnya adalah 90(siku-siku). Dapat juga dikatakan persegi adalah persegi panjang yang keempat sisinya sama panjang.

d. Keliling dan luas persegi panjang dan persegi
1). Persegi panjang
a). Keliling
Keliling persegi panjang adalah jumlah panjang keempat sisinya. Pada persegi panjang, sisi yang lebih panjang disebut panjang yang dinotasikan p dan sisi yang lebih pendek disebut lebar yang dinotasikan l. Jadi, keliling persegi panjang dengan panjang p dan lebar adalah ;
                            p
     P                                           Q

    l                   LUAS                 l
     R                    p                    S
Gambar 2.7 Keliling dan luas persegi panjang

Contoh 1:
Diketahui persegi panjang PQRS dengan panjang 4 cm lebih panjang dari lebarnya. Jika keliling persegi panjang adalah 36 cm,
tentukan ukuran panjang dan lebar!
Penyelesaian.
Diketahui: p = 4 + dan K = 36 cm
Ditanya: p dan ?
Jawab.
K = 2 (p + l) ⇔36 = 2((4+l) + l)
18 = 4 + 2⇔14 = 2l l = 7
maka p = 4 + = 4 + 7 = 11
Jadi, persegi panjang tersbut mempunyai panjang 11 cm dan lebar 7 cm.
b). Luas
Jika daerah persegi panjang mempunyai panjang p satuan panjang dan lebar l satuan panjang. Maka luas daerah persegi panjang dapat dihitung dari :


Contoh 2:
Kamar mandi Pak Amin berbentuk persegi panjang dengan panjang 2 meter dan lebar 1,5 meter. Akan dipasang keramik persegi dengan ukuran 20 cm. Berapa banyakkah keramik yang dibutuhkan?
Penyelesaian.
Diketahui : kamar mandi persegi panjang, p = 2 m, = 1,5 m
Keramik persegi, s = 20 cm
Ditanya : banyak keramik?
Jawab : Luas kamar mandi = p x = 2 x 1,5 = 3 m2
Luas keramik = s x s = 20x20 = 400 cm= 0,04 m2
Banyak keramik Jadi, banyak keramik yang dibutuhkan sebanyak 75 buah.

2). Persegi
a). Keliling
Persegi merupakan persegi panjang yang keempat sisinya sama panjang, sehingga p = l. Misalkan p = = s, maka :
                             p=s
Gambar 2.8 Keliling dan Luas persegi

Contoh 3:
Keliling suatu persegi adalah 32 cm. Hitunglah panjang sisinya!
Penyelesaian.
Diketahui: K = 32 cm
Ditanya: s ?
Jawab.
K = 4s⇔ 32 = 4s ⇔ s = 8
Jadi, panjang sisi persegi tersebut 8 cm.
b). Luas
Karena persegi merupakan persegi panjang yang keempat sisinya sama panjang, sehingga p = = s, maka:



dengan :
 L = luas dan
 s = panjang sisi persegi
Contoh 4:
Luas suatu persegi adalah 64 cm2. Berapakah panjang sisinya?
Penyelesaian.
Diketahui: L = 64 cm2
Ditanya: s?
Jawab.
L = s⇔ 64 = s2
s = 8
Jadi, panjang sisi persegi tersebut 8 cm.

2.3    Kerangka Konseptual
Matematika oleh sebagian siswa dianggap sulit dan menjenuhkan. Sulit karena sifat keabstrakan matematika dan menjenuhkan karena guru dalam memelajarkan mereka hanya dengan satu arah dan monoton. Belajar siswa belum bermakna.Pembelajaran matematika selama ini, guru langsung menyampaikan materi beserta rumus-rumusnya. Siswa tidak menemukan sendiri pengetahuan sehingga tidak bertahan lama dalam ingatan. Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) merupakan pembelajaran matematika berdasarkan pada ide bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan sehari-hari siswa sebagai suatu sumber pengembangan dan sebagai area aplikasi melalui proses matematisasi baik horizontal maupun vertikal.
Pembelajaran PMR dengan menerapkan kelima prinsip dapat membuat pembelajaran lebih bermakna. Dengan didominasi oleh masalah-masalah dalam konteks, yaitu perhatian pembelajaran diberikan pada pengembangan model-model, situasi, skema dan simbol-simbol, dapat mengurangi keabstrakan matematika. Penerapan prinsip sumbangan dari para siswa, membuat siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif, artinya siswa memproduk sendiri dan mengkonstruksi sendiri (yang mungkin berupa algoritma, rute atau aturan) sehingga dapat membimbing para siswa dari level matematika informal menuju matematika formal. Prinsip interaktif sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika mengajak siswa untuk saling berinteraksi antarteman sehingga pembelajaran tidak sepenuhnya dipegang guru dan prinsip “Intertwinning” (membuat jalinan antartopik, antarpokok bahasan atau antar “stand”, menjadikan siswa mampu mengaitkan dengan materi yang lain atau bahkan materi mata pelajaran yang lain.
Pembelajaran matematika realistik dengan menerapkan kelima prinsip khas yang dimiliki diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika. Dalam pembelajaran PMR dimana dalam pelaksanaannya siswa menemukan sendiri pengetahuan yang akan diperoleh melalui metode coba-coba atau menyelesaikan secara informal, membuat pengetahuan yang diperoleh dapat bertahan lama dalam ingatan. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dapat berkembang ketika menghadapai permasalahan baru.

2.4    Hipotesis Tindakan
         Hipotesis dalam penelitian ini adalah : Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) efektif dalam meningkatkan hasil kemampuan pemecahan masalah matematika pada kompetensi dasar menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat.


3.1  Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, panelitian ini diawali dengan pengambilan subjek dan objek penelitian. Setelah itu dilakukan penelitian langsung kelokasi/tempat penelitian. Adapun penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus. Penelitian ini dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

3.2  Tempat dan Waktu Penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bilah Barat tahun pelajaran 2011/2012 kecamatan Bilah Barat, Kabupaten Labuhanbatu Induk.

3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2012 sampai dengan 4 Juni 2012.

3.3  Subjek dan Objek Penelitian
3.3.1 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Bilah Barat tahun pelajaran 2011/2012.
3.3.2 Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah model pembelajaran matematika realistik pada kompetensi dasar menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam masalah di kelas VII A SMP Negeri 1 Bilah Barat Tahun Pelajaran 2011/2012.

3.4    Perencanaan Tahapan Penelitian
Perencanaan Tahap-tahap penelitian adalah sebagai berikut :
Siklus I
Tahap perencanaan
·         Menyusun RPP dengan menggunakan pembelajaran metematika realistik, menyusun soal tes hasil belajar dan lembar observasi.
Tahap Pelaksanaan
Langkah 1 pendahuluan
a.       Guru menginformasikan model pembelajaran matematika realistik.
b.      Menyampaikan tujuan pembelajaran  dengan memotifasi siswa.
c.       Membuka pelajaran dengan mengaitkan materi pelajaran sebelumnya
Langkah 2 Kegiatan belajar
a.       Guru menyampaikan materi
b.      Guru membagi soal tes hasil belajar
c.       Memantau siswa mengerjakan soal tes hasil belajar
d.      Meminta siswa mengumpulkan hasil kerja kelompok

Observasi
·         Mengamati keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran.
Refleksi
·         Guru mengevaluasi hasil belajar dengan cara meminta beberapa perwakilan kelompok untuk mempersentasekan hasil kerja kelompok
·         Menganalisis data yang diperoleh dan menarik kesimpulan dari data tersebut. Melasanakan siklus II setelah mengambil kesimpulan apabila pelaksanan siklus I kurang baik.
Siklus II
Mengingat hasil belajar siklus I masih terdapat kekurangan, peneliti mengadakan perulangan pada siklus II agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Tahap perencanaan
·         Menyusun RPP dengan menggunakan pembelajaran metematika realistik dengan memperbaiki kekurangan pada siklus I, menyusun soal tes hasil belajar dan lembar observasi.
Tahap Pelaksanaan
Langkah 1 pendahuluan
·         Guru menginformasikan model pembelajaran matematika realistik.
·         Menyampaikan tujuan pembelajaran  dengan memotifasi siswa.
·         Membuka pelajaran dengan mengaitkan materi pelajaran sebelumnya
Langkah 2 Kegiatan belajar
·         Guru menyampaikan materi
·         Guru membagi soal tes hasil belajar
·         Memantau siswa mengerjakan soal tes hasil belajar
·         Meminta siswa mengumpulkan hasil kerja kelompok
Observasi
·         Mengamati keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran.
Refleksi
·         Guru mengevaluasi hasil belajar dengan cara meminta beberapa perwakilan kelompok untuk mempersentasekan hasil kerja kelompok
·         Menganalisis data yang diperoleh dan menarik kesimpulan dari data tersebut.
Gambar 3.1 tahapan pelaksanaan PTK

3.5 Data dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar, lembar observasi dan hasil wawancara.
1. Metode dokumentasi
Metode ini dilakukan untuk memperoleh daftar nama siswa yang termasuk dalam penelitian serta untuk memperoleh data nilai siswa.
2. Metode tes
Metode tes digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan pemecahan masalah matematika pada pokok bahasan segitiga dan segiempat. Soal tes ini dalam bentuk pilihan berganda. Tes diujikan kepada kelas VII A dan hasil pengolahan data digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis penelitian. Dalam penelitian ini tes akan diberikan kepada siswa
sebanyak dua kali yaitu tes awal dan tes akhir.
Suatu soal hanya disebut sebagai problem (masalah) bagi siswa jika dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a.         Siswa memiliki pengetahuan prasyarat untuk mengerjakan soal tersebut.
b.        Siswa belum tahu algoritma/ cara pemecahan soal tersebut.
c.         Siswa mau dan berkehendak untuk menyelesaikan soal tersebut.
d.        Siswa diperkirakan mampu menyelesaikan soal tersebut.
(Suyitno, 2004: 35)

a. Taraf kesukaran
untuk menghitung tingkat kesukaran tes digunakan rumus indeks kesukaran sebagai berikut :
Keterangan ;
P = indeks kesukaran
B = banyak siswa yang menjawab soal dengan benar
JS = jumlah seluruh peserta tes

Klasifikasi indeks kesukaran tes adalah sebagai berikut :
Untuk P = 0,00 – 0,30             soal sukar
Untuk P = 0,31 – 0, 70            soal sedang
Untuk P = 0.71 – 1,00             soal mudah
b. Daya Pembeda
Teknik untuk menghitung daya pembeda bagi tes digunakan rumus :

keterangan :
D = daya pembeda
Ba = banyak peserta kelompok atas yang dapat menyelesaikan soal dengan benar
Bb= banyak peserta kelompok bawah yang menyelesaikan soal dengan benar
= banyak peserta kelompok atas
= banyak paserta kelompok bawah

Klasifikasi daya pembeda soal
Untuk D = 0,00 – 0,20            ; soal cukup jelek
Untuk D = 0,21 – 0,40            ; soal cukup
Untuk  D = 0,41 – 0,70           ; soal baik
Untuk D = 0,71 – 1,00            ; soal sangat baik
3. Metode observasi
Salah satu cara unutk mengumpulkan data penelitian adalah dengan metode observasi. Metode observasi digunakan untuk mengetahui penerapan kelima prinsip PMR berjalan atau tidak dalam pembelajaran, baik yang terlihat pada aktivitas guru maupun siswa. Observasi dilakukan oleh pengamat pada setiap pembelajaran.
4. Wawancara
Untuk mengetahui kesulitan siswa dalam mempelajari materi tersebut, penulis melakukan wawancara dengan siswa yang mengalami kesulitan mengerjakan soal. Wawancara difokuskan pada hasil belajar siswa.

3.6 Teknik Analisis Data
3.6.1 Analisis Data
Analisis data dilakukan untuk menguji hipotesis dari penelitian dan dari hasil analisis ditarik kesimpulan. Analisis dalam penelitian ini dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap awal yang merupakan tahap untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelumnya dan tahap akhir, yang merupakan tahap analisis data untuk menguji hipotesis penelitian.
1. Analisis Data Awal 
Langkah-langkah analisis data awal adalah sebagai berikut:
1) Mengumpulkan tes hasil belajar siswa sebelumnya dari guru mata pelajaran matemetika atau nilai tes awal siswa.
2) Menyusun data dan mencari nilai tertinggi dan terendah.
3) Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas dengan rumus: panjang interval = 1 + 3,3 log n.
4) Menghitung rata-rata data yang diperoleh.
2. Analisis Data Akhir
Setelah semua tindakan berakhir kemudian diberi tes. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kemudian dianalisis untuk mengetahui
apakah hasilnya sesuai dengan hipotesis yang diharapkan.
Langkah-langkah analisis data akhir adalah sebagai berikut:
1)      Menyusun data dan mencari nilai tertinggi dan terendah.
2)      Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas dengan rumus: panjang interval = 1 + 3,3 log n
3)      Menghitung rata-rata.
4)      Membandingkan hasil analisis data awal dengan analisis data akhir
untuk melihat peningkatan dalam proses pembelajaran, dihitung selisih (gain) antara pretes dangan nilai postes. Adapun rumus yang digunakan yaitu :
             
setelah indek gain diketahui selanjutnya diberi penafsiran terhadap hasil yang diperoleh dengan kriteria indeks gain menurut Hake.
Tabel 3.1 kriteria indeks gain
( Guntur, 2004 dalam frebianti)

3.7  Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini meliputi tingkat penguasaan siswa, ketuntasan belajar siswa baik secara individu dan kalasikal. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila Tingkat Penguasaan Siswa minimal mencapai sedang. Ketuntasan klasikal mencapai 85% atau lebih, dan siswa tuntas belajar secara individu. Siswa yang melakukan aktivitas dalam belajar 75 %.
3.7.1 Menghitung Tingkat Penguasaan Siswa
            Dari data hasil belajar siswa masing – masing ditentukan persentase Pencapaian hasil belajar (PPH) dengan rumus :
Dengan ;
PPH = Persentase Pencapaian Hasil Belajar
SS = skor yang diperoleh siswa
SM = skor maksimal

Menurut Nurcakana ( dalam Tampubolon, 2008 : 21 ) bahwa kategori penguasaan siswa dapat dilihat melalui tabel dibawah ini sebagai berikut :
Tabel 3.1 Tingkat Penguasaan siswa

Dikatakan mencapai tingkat penguasaan siswa apabila mencapai kriteria paling sedikit sedang.
3.7.2 Kriteria Ketuntasan Belajar
Seorang siswa dikatakan tuntas belajar jika memiliki daya serap paling sedikit 65% sedangkan ketuntasan klasikal tercapai bila paling sedikit 85% dari siswa dikelas tersebut telah tuntas belajar. Ketercapaian TPK berdasarkan Depdikbud(dalam fauzi, 2002 : 66) dikatakan bahwa:” suatu TPK dipandang tercapai apabila paling sedikit 65% siswa telah tuntas belajar untuk semua butir soal yang berkaitan dengan TPK tersebut. Sedangkan kriteria ketuntasan pencapaian TPK yang ada adalah apabila paling sedikit 75% dari seluruh TPK yang ditetapkan tercapai.
Untuk menghitung kriteria ketuntasan belajar siswa digunakan rumus :
Dengan ;
KB = ketuntasan belajar
T = jumlah skor yang diperoleh siswa
= jumlah skor soal
Setiap siswa dikatakan tuntas belajarnya jika proporsi jawaban benar siswa ≥65%. Dari uraian di atas dapat diketahui siswa belum tuntas atau yang sudah tuntas belajar secara individu. Untuk mengetahui persentase siswa yang sudah tuntas dalam belajar secara klasikal digunakan rumus :
Dengan :
D = persentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal
X = jumlah siswa yang telah tuntas belajar (daya serap ≥65%)
N = jumlah siswa
Kemudian diambil kesimpulan suatu kelas telah tuntas belajar jika di
kelas tersebut terdapat minimal 85% siswa yang telah mencapai nilai ≥65%.


3.7.3 Analisis Hasil Observasi
Analisis ini digunakan untuk menjawab pertanyaan “Bagaimanakah penerapan Pembelajaran Matematika Realistik pada siswa dan guru matematika kelas VII SMP Negeri 1 Bilah Barat?”. Penilaian berdasar pada bagimanakah penerapan prinsip Pembelajaran Matematika Realistik dengan memberi skor berskala 1 – 4. Adapun kriteria penskoran keaktifan siswa sebagai berikut :
1. Banyak siswa yang melakukan aktivitas < 25 %                     skor 1
2. Banyak siswa yang melakukan aktivitas 25 % - 49 %             skor 2
3. Banyak siswa yang melakukan aktivitas 50 % - 74 %             skor 3
4. Banyak siswa yang melakukan aktivitas 75 %                        skor 4
Data hasil pengamatan aktivitas siswa dan guru selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dianalisis dengan menggunakan persentase (%), yakni banyaknya frekuensi aktivitas dibagi dengan seluruh frekuensi aktivitas, dikali dengan 100 %.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian dan pembahasan pada bab ini adalah hasil studi lapangan untuk memperoleh data dengan teknik tes setelah dilakukan suatu pembelajaran pada kelas penelitianTujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu keefektifan pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Matematika Realistik  pada materi pokok Segitiga dan Segiempat pada siswa kelas VII SMP N 1 Bilah Barat. Sebagai kelas penelitian  adalah siswa kelas VII A. Setelah gambaran pelaksanaan penelitian dijelaskan, dilanjutkan dengan penghitungan hasil belajar siswa berdasarkan pencapaian indikator penelitian meliputi menghitung tingkat penguasaan siswa, dan ketuntasan belajar siswa serta menganalisis hasil observasi
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2012 sampai dengan 4 Juni 2012 pada siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Bilah Barat. Sebelum kegiatan penelitian ini dilaksanakan, terlebih dahulu menentukan materi dan menyusun rencana pembelajaran dan lembar observasi/pengamatan untuk mengetahui aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Materi pokok yang dipilih adalah Segitiga dan Segiempat, sedangkan dalam penelitian ini hanya diambil sub materi persegi panjang dan persegi.
Pembelajaran yang digunakan dalam penelitian  yaitu Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Pelaksanaan pembelajaran dilakukan guru dengan menyiapkan soal realistik (ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari) yang akan dikerjakan para siswa secara informal atau coba-coba (karena langkah penyelesaian formal untuk menyelesaikan soal tersebut belum diberikan), hasil pekerjaan siswa dikumpulkan, koreksi terhadap hasil pekerjaan siswa dengan berprinsip pada penghargaan terhadap keberagaman jawaban dan kontribusi siswa, memilih beberapa siswa untuk menjelaskan temuannya, pengulangan jawaban siswa, menunjukan langkah formal. Pada siklus I dilakukan tes awal dengan nilai tertinggi 80, nilai terendah 20, pada postes nilai tertinggi 85, nilai terendah 22. Pada siklus II pretes diperoleh nilai tertinggi 85, nilai terendah 35. Pada postes nilai tertinggi 100, nilai terendah 54.

4.1.1. Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I
a. Tahap perencanaan
Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, menyusun soal tes hasil belajar dan lembar observasi.
b. Tahap Pelaksanaan
setelah perencanaan maka selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan. Pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan.
Pertemuan pertama (2x40 menit)
Sub materi              : menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat
Hari/tanggal           : Senin 16 Mei 2012
Waktu                    : 7.55 - 9.10 WIB
Tempat                   : Ruang kelas VII A

Pertemuan Kedua (2x40 menit)
Sub materi              : menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat
Hari/tanggal           : Selasa 17 Mei 2012
Waktu                    : 9.10 – 9.50 WIB
Tempat                   : Ruang kelas VII A
Langkah 1 pendahuluan
a.       Guru menginformasikan model pembelajaran matematika realistik.
b.      Menyampaikan tujuan pembelajaran  dengan memotifasi siswa.
c.       Membuka pelajaran dengan mengaitkan materi pelajaran sebelumnya
Langkah 2 Kegiatan belajar
a.       Guru menyampaikan materi
b.      Guru membagi soal tes Hasil belajar
c.       Memantau siswa mengerjakan soal tes hasil belajar
d.      Meminta siswa mengumpulkan hasil kerja siswa
    c. Observasi
Observasi dilakukan untuk  mengamati keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran. Observasi terhadap aktivitas siswa pada penelitian ini meliputi : (1) Siswa menanggapi masalah yang diajukan, (2) Siswa menggunakan kelengkapan belajar yang disediakan guru, (3) Siswa mengemukakan pendapat, (4) Siswa mengajukan pertanyaan, (5) Siswa mengemukakan penyelesaian masalah, (6) Siswa membuat kesimpulan.
    d. Refleksi
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada proses pembelajaran guru dan siswa telah mengikuti langkah-langkah pembelajaran, tetapi dalam pelaksanaannya masih terdapat kelemahan-kelemahan, diantaranya :
1.      Guru masih kurang mampu membimbing siswa.
2.      Guru masih kurang mampu dalam memotivasi siswa.
3.      Ada beberapa siswa yang belum mengenal bangun segitiga dan segiempat.
4.      Sebagian siswa belum mampu menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat.
Berdasarkan kelemahan diatas maka peneliti mancari alternatif penyelesaian masalah diatas untuk perbaikan pada siklus II meliputi :
1.      Guru harus lebih mampu membimbing siswa.
2.      Guru memotivasi siswa terlebih dahulu agar siswa terpicu untuk belajar.
3.      Guru memperkenalkan bangun segitiga dan segiempat kepada siswa.
4.      Guru menjelaskan cara menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat serta menggunakannya.
Berdasarkan hasil siklus I yang masih terdapat beberapa kelemahan diantaranya  ketuntasan klasikal siswa belum mencapai batas standart yaitu ≥ 85, ketuntasan klasikal siklus I hanya 58,06 % (dihitung berdasarkan data pretes). Maka peneliti melasanakan siklus II.

Tabel 4.1 Daftar nilai siswa Siklus I




















4.1.2 Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II
Mengingat hasil belajar siklus I masih terdapat kekurangan, peneliti mengadakan perulangan pada siklus II agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. a. Tahap perencanaan
Pada tahap perencanaan peneliti menyusun RPP dengan menggunakan pembelajaran metematika realistik dengan memperbaiki kekurangan pada siklus I, menyusun soal tes hasil belajar dan lembar observasi.
b. Tahap Pelaksanaan
Pertemuan pertama (2x40 menit)
Sub materi              : menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat serta menggunakannya dalam masalah’
Hari/tanggal           : Senin 23 Mei 2012
Waktu                    : 7.55 - 9.10 WIB
Tempat                   : Ruang kelas VII A
Pertemuan Kedua (2x40 menit)
Sub materi              : menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat serta menggunakannya dalam masalah.
Hari/tanggal           : Selasa 24 Mei 2012
Waktu                    : 9.10 – 9.50 WIB
Tempat                   : Ruang kelas VII A
Langkah 1 pendahuluan
·         Guru menginformasikan model pembelajaran matematika realistik.
·         Menyampaikan tujuan pembelajaran  dengan memotifasi siswa terlebih dahulu.
·         Membuka pelajaran dengan mengaitkan materi pelajaran sebelumnya
Langkah 2 Kegiatan belajar
·         Guru menyampaikan materi
·         Guru membagi soal tes hasil belajar
·         Memantau siswa mengerjakan soal tes hasil belajar
·         Meminta siswa mengumpulkan hasil kerja siswa
  c. Observasi
Observasi dilakukan untuk  mengamati keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran. Observasi terhadap aktivitas siswa pada penelitian ini meliputi : (1) Siswa menanggapi masalah yang diajukan, (2) Siswa menggunakan kelengkapan belajar yang disediakan guru, (3) Siswa mengemukakan pendapat, (4) Siswa mengajukan pertanyaan, (5) Siswa mengemukakan penyelesaian masalah, (6) Siswa membuat kesimpulan.
 d. Refleksi
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada proses pembelajaran guru dan siswa telah mengikuti langkah-langkah pembelajaran, pada siklus II sudah terdapat peningkatan proses belajar mengajar diantaranya :
1.      Guru sudah mampu membimbing siswa.
2.      Guru sudah mampu dalam memotivasi siswa.
3.      Siswa mampu menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat.
4.      Siswa lebih aktif belajar.
Setelah Siklus II selesai dan peneliti menyimpulkan hasil penelitian bahwa terdapat pengingkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke Siklus II, dan ketuntasan Klasikalnya telah melampaui > 85% maka penelitian telah berhasil, dan penelitian  sampai pada siklus II.
Tabel 4.2 Daftar nilai siswa Siklus II

4.1.3. Hasil Perhitungan Skor belajar siswa
            Dari perhitungan data kelas penelitian dengan menggunakan model Pembelajaran Realistik  Siklus I tes awal (pre test) diperoleh rata 61,45 nilai tertinggi 80 nilai terendah 20. Pada postes diperoleh rata-rata 64,71, dengan nilai tertingi 85 dan nilai terendah 22. Pada siklus II pretes diperoleh rata-rata 69,12 Nilai tertinggi 85, nilai terendah 35. Pada postes diperoleh rata-rata 77,84 ; nilai tertinggi 100 ; nilai terendah 54. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 7.

4.1.4. Tingkat penguasaan dan ketuntasan belajar siswa
            Dari data hasil belajar siswa masing – masing ditentukan persentase dari
Pencapaian hasil belajar (PPH) tiap siswa. Setelah persentase tingkat penguasaan siswa dihitung, barulah dicari ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Pada tes awal Siklus I persentase ketuntasan klasikalnya 58,06% dengan jumlah siswa yang tuntas 18 dan 13 siswa yang tidak tuntas. Untuk tingkat penguasaan siswa secara individu (PPH) pada tes awal dapat dilihat pada lampiran 8. Pada siklus I postes persentase ketuntasan klasikalnya 61,29%, dengan jumlah siswa yang tuntas 19 siswa dan yang tidak tuntas 12 siswa. Untuk tingkat penguasaan siswa secara individu (PPH) pada postes siklus I dapat dilihat pada lampiran 9. Pada siklus II pretes persentase ketuntasan secara klasikalnya 83,87% dengan jumlah siswa yang tuntas 26 siswa dan yang tidak tuntas 5 siswa. pada postes siklus II diperoleh persentase ketuntasan klasikalnya 87, 10%, jumlah siswa yang tuntas 27, siswa yang tidak tuntas 4 siswa. Untuk tingkat penguasaan siswa secara individu pada siklus II pretes dan postes dapat dilihat pada lampiran 10 dan 11.

Tabel 4.3 Perbedaan Hasil Penelitian Siklus I dan Siklus II

4.2 Pembahasan hasil Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran matematika realistik pada kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VII SMP pokok bahasan segitiga dan segiempat. Untuk mengetahui efektif tidaknya pembelajaran tersebut, diambil kelas penelitian kelas VII A.
Pada kelas penelitian diterapkan pembelajaran matematika realistik. Pada awal pembelajaran terlebih dahulu guru menjelaskan tujuan dan pendekatan pembelajaran dengan menjelaskan tentang logistik atau kelengkapan yang dibutuhkan serta memberikan motivasi kepada siswa. Kemudian guru memberi permasalahan yang harus diselesaikan oleh siswa yang mereka belum tahu penyelesaian secara formal. Siswa mendiskusikan pemecahan masalah dengan cara coba-coba dan dilakukan secara berkelompok. Siswa kemudian mengumpulkan hasil diskusi dan dikoreksi oleh guru. Salah satu perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusi. Guru memberikan penyelesaian secara formal atau dapat menguatkan jawaban siswa.
Berdasarkan pertemuan I masih terdapat kekurangan selama proses pembelajaran sebagai berikut, kinerja guru dalam pengelolaan pembelajaran belum dilaksanakan dengan baik. Motivasi yang diberikan guru masih terlalu sedikit, peran guru dalam membimbing siswa dalam mengorganisasi tugas-tugas masih perlu ditingkatkan sehingga masih terdapat beberapa kelompok yang belum memahami tugas yang harus diselesaikan sehingga banyak siswa yang bertanya, bercerita sendiri dan tidak aktif dalam kelompoknya sehingga menimbulkan kegaduhan. Dominasi masalah kontekstual dan komunikasi dari guru masih kurang. Pengaitan materi yang disampaikan dengan materi lain dalam matematika maupun materi mata pelajaran lain masih kurang.
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan II sudah lebih baik dari pertemuan sebelumnya. Tetapi motivasi yang diberikan guru masih sedikit. Bimbingan penyelidikan secara individual atau kelompok juga masih perlu ditingkatkan, karena masih ada satu dua orang siswa dalam kelompok yang belum aktif dalam pelaksanaan diskusi. Dominasi masalah kontekstual dan komunikasi dari guru sudah muncul. Pengaitan materi yang disampaikan dengan materi lain dalam matematika maupun materi mata pelajaran lain sudah lebih baik.
Aktivitas siswa sudah semakin baik, sebagian anggota kelompok sudah berbagi tugas. Interaksi antar siswa belum terlaksana dengan maksimal, mereka masih canggung untuk saling bertanya dan menjelaskan dengan teman sekelompoknya sehingga masih sering bertanya kepada guru bila menemui kesulitan. Kemampuan siswa untuk melakukan pemodelan dan membuat model sendiri sudah lebih baik. Respon terhadap pertanyaan guru sudah lebih baik, demikian juga komunikasi dalam kelompok. Kemampuan mereka dalam menghubungkan materi juga sudah berkembang.
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan III menunjukkan peningkatan yang lebih baik daripada pertemuan II. Guru telah menyampaikan tujuan pembelajaran dengan lengkap dan memunculkan masalah dengan sangat baik. Masalah yang disampaikan guru sudah lebih kontekstual. Pengaitan materi yang disampaikan dengan materi lain dalam matematika maupun materi mata pelajaran lain sudah lebih baik. Dalam menyimpulkan materi pada pertemuan III ini, guru masih berperan cukup banyak karena siswa masih kesulitan dalam merangkai kata-kata.
Aktivitas siswa pada pertemuan III juga meningkat dibanding pertemuan II. Aktivitas siswa sudah semakin baik, sebagian anggota kelompok sudah berbagi tugas. Interaksi antar siswa sudah terlaksana dengan maksimal, mereka sudah saling bertanya dan menjelaskan dengan teman sekelompoknya . Kemampuan siswa untuk melakukan pemodelan dan membuat model sendiri sudah lebih baik. Respon terhadap pertanyaan guru sudah lebih baik, demikian juga komunikasi dalam kelompok. Kemampuan mereka dalam menghubungkan materi juga sudah berkembang.
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan IV menunjukkan peningkatan yang lebih baik daripada pertemuan III. Guru telah menyampaikan tujuan pembelajaran dengan lengkap dan memunculkan masalah kntekstual dengan sangat baik. Masalah yang disampaikan guru sudah kontekstual. Pengaitan materi yang disampaikan dengan materi lain dalam matematika maupun materi mata pelajaran lain sudah baik.
Aktivitas siswa pada pertemuan IV juga semakin meningkat. Aktivitas siswa sudah semakin baik, sebagian anggota kelompok sudah berbagi tugas. Interaksi antar siswa sudah terlaksana dengan maksimal, mereka sudah saling bertanya dan menjelaskan dengan teman sekelompoknya. Kemampuan siswa untuk melakukan pemodelan dan membuat model sendiri sudah baik. Respon terhadap pertanyaan guru sudah lebih baik, demikian juga komunikasi dalam kelompok. Kemampuan mereka dalam menghubungkan materi juga sudah baik.
Suatu proses pembelajaran juga dikatakan efektif apabila seluruh siswa terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan kerjasama siswa dalam kelompoknya. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pun semakin meningkat pada setiap pertemuan.
Pada penelitian ini indikator keberhasila  penelitian sudah tercapai pada pertemuan IV. Walaupun demikian guru masih perlu memberikan penguatan materi dan beberapa soal latihan yang harus dikerjakan secara individual karena siswa harus dilatih untk berfikir mandiri. Ketercapaian indikator penelitian dapat dilihat dengan semakin meningkatnya penguasaan siswa terhadap materi/soal yang diujikan dari pertemuan pertama sampai ke 4, Pada tes awal, tingkat penguasaan siswa secara keseluruhannya masih kriteria kemampuan sedang. Bardasarkan hasil penelitian Tingkat Penguasaan siswa pada Siklus II semakin meningkat dari siklus I. Dari tes hasil belajar Pada siklus I (postes) diperoleh 19 dari 31 siswa (61,29%) yang tuntas mencapai nilai minimum 65 dengan rata-rata kelas 64,71. Pada siklus II (postes) persentase ketuntasan secara klasikalnya 87,10% dengan jumlah siswa yang tuntas 27 siswa dan yang tidak tuntas 4 siswa. Peningkatan dalam proses pembelajaran dapat juga dilihat berdasarkan perhitungan indeks gain pada lampiran 12.

4.3 Temuan Penelitian
            Terdapat beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yang dianalisis dari dua siklus. Temuan dalam penelitian ini adalah :
     1.      Ketika belajar, ada beberapa siswa yang berani mengajukan pertanyaan.
     2.      Ada beberapa siswa yang mau mempersentasekan hasil jawabannya.
     3.      Ada beberapa siswa yang mampu membuat kesimpulan dari materi yang dipelajari.

     4.      pelaksanaan pembelajaran semakin baik, siswa semakin aktif pada siklus II.


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pembelajaran Matematika Realistik lebih efektif diterapkan pada Proses belajar Mengajar. Hal ini dapat dilihat dari : nilai rata-rata tes hasil belajar siswa pada tes awal Siklus I 61,45 pada postes Siklus I 64,71 dan pada pretes siklus II 69,13 dan pada postes Siklus II 77,84. Persentase Ketuntasan Klasikal(D) pada siklus I pretest 58,06% ;  postes 61,29%. Pada Siklus II pretes 83,87% , postes 87,10%.
2.  Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pada materi segitiga dan segiempat siswa kelas VII SMP Negeri 1 Bilah Barat tahun ajaran 2011/ 2012 dapat ditumbuhkembangkan dengan Pembelajaran Matematika Realistik.

5.2 Saran
             1.    Guru diharapkan dapat mengembangkan kreatifitas dalam membuat soal dengan lebih                         mengaitkan masalah pada soal dengan kegiatan sehari-hari sehingga keaktifan siswa dapat                   lebih ditingkatkan.
            2.      Pembelajaran Matematika Realistik perlu terus diterapkan dan dikembangkan pada materi                    yang lain agar siswa lebih memahami materi yang dipelajari, yaitu yang ada hubungannya                   dan berguna bagi kehidupan sehari-hari.
           3.      Bagi siswa, diharapkan untuk mau lebih aktif, serius salama proses pembelajaran dan mau                   mempelajari kembali dirumah materi yang telah diberikan.
          4.      Perlu adanya penelitian lebih lanjut sebagai pengembangan dari penelitian ini, disarankan                   untuk mengembangkan penelitian ini dengan materi dan media pembelajaran yang lain.
           

 DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Penelitian).
Jakarta: PT Rineka Cipta.

Cunayah, Cucun. 2005. Kompetensi Matematika untuk SMP/MTs Kelas VII.
Bandung: Yrama Widya.

Gravemeijer, Koeno. 2007Developing Realistic Mathematics Education. Utrecht:   Freudenthal University.

Mulyasa, E. 2007Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Sudjana. 2002Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

Suherman, Erman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: UPI.

Suyitno, Amin. 2004. Dasar-Dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang: Jurusan Matematika FMIPA Unnes.

Wardhani, Sri. 2005. Pembelajaran dan Penilaian Aspek Pemahaman Konse, Penalaran dan Komunikasi, Pemecahan Masalah. Jogjakarta: Materi Pembinaan matematika SMP di Daerah Tahun 2005 (PPPG Matematika).

No comments:

Post a Comment