keefektifan pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Matematika Realistik

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian dan pembahasan pada bab ini adalah hasil studi lapangan untuk memperoleh data dengan teknik tes setelah dilakukan suatu pembelajaran pada kelas penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu keefektifan pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Matematika Realistik  pada materi pokok Segitiga dan Segiempat pada siswa kelas VII SMP N 1 Bilah Barat. Sebagai kelas penelitian  adalah siswa kelas VII A. Setelah gambaran pelaksanaan penelitian dijelaskan, dilanjutkan dengan penghitungan hasil belajar siswa berdasarkan pencapaian indikator penelitian meliputi menghitung tingkat penguasaan siswa, dan ketuntasan belajar siswa serta menganalisis hasil observasi
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2012 sampai dengan 4 Juni 2012 pada siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Bilah Barat. Sebelum kegiatan penelitian ini dilaksanakan, terlebih dahulu menentukan materi dan menyusun rencana pembelajaran dan lembar observasi/pengamatan untuk mengetahui aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Materi pokok yang dipilih adalah Segitiga dan Segiempat, sedangkan dalam penelitian ini hanya diambil sub materi persegi panjang dan persegi.
Pembelajaran yang digunakan dalam penelitian  yaitu Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Pelaksanaan pembelajaran dilakukan guru dengan menyiapkan soal realistik (ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari) yang akan dikerjakan para siswa secara informal atau coba-coba (karena langkah penyelesaian formal untuk menyelesaikan soal tersebut belum diberikan), hasil pekerjaan siswa dikumpulkan, koreksi terhadap hasil pekerjaan siswa dengan berprinsip pada penghargaan terhadap keberagaman jawaban dan kontribusi siswa, memilih beberapa siswa untuk menjelaskan temuannya, pengulangan jawaban siswa, menunjukan langkah formal. Pada siklus I dilakukan tes awal dengan nilai tertinggi 80, nilai terendah 20, pada postes nilai tertinggi 85, nilai terendah 22. Pada siklus II pretes diperoleh nilai tertinggi 85, nilai terendah 35. Pada postes nilai tertinggi 100, nilai terendah 54.

4.1.1. Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I
a. Tahap perencanaan
Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, menyusun soal tes hasil belajar dan lembar observasi.
b. Tahap Pelaksanaan
setelah perencanaan maka selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan. Pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan.
Pertemuan pertama (2x40 menit)
Sub materi              : menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat
Hari/tanggal           : Senin 16 Mei 2012
Waktu                    : 7.55 - 9.10 WIB
Tempat                   : Ruang kelas VII A

Pertemuan Kedua (2x40 menit)
Sub materi              : menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat
Hari/tanggal           : Selasa 17 Mei 2012
Waktu                    : 9.10 – 9.50 WIB
Tempat                   : Ruang kelas VII A
Langkah 1 pendahuluan
a.       Guru menginformasikan model pembelajaran matematika realistik.
b.      Menyampaikan tujuan pembelajaran  dengan memotifasi siswa.
c.       Membuka pelajaran dengan mengaitkan materi pelajaran sebelumnya
Langkah 2 Kegiatan belajar
a.       Guru menyampaikan materi
b.      Guru membagi soal tes Hasil belajar
c.       Memantau siswa mengerjakan soal tes hasil belajar
d.      Meminta siswa mengumpulkan hasil kerja siswa
    c. Observasi
Observasi dilakukan untuk  mengamati keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran. Observasi terhadap aktivitas siswa pada penelitian ini meliputi : (1) Siswa menanggapi masalah yang diajukan, (2) Siswa menggunakan kelengkapan belajar yang disediakan guru, (3) Siswa mengemukakan pendapat, (4) Siswa mengajukan pertanyaan, (5) Siswa mengemukakan penyelesaian masalah, (6) Siswa membuat kesimpulan.
    d. Refleksi
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada proses pembelajaran guru dan siswa telah mengikuti langkah-langkah pembelajaran, tetapi dalam pelaksanaannya masih terdapat kelemahan-kelemahan, diantaranya :
1.      Guru masih kurang mampu membimbing siswa.
2.      Guru masih kurang mampu dalam memotivasi siswa.
3.      Ada beberapa siswa yang belum mengenal bangun segitiga dan segiempat.
4.      Sebagian siswa belum mampu menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat.
Berdasarkan kelemahan diatas maka peneliti mancari alternatif penyelesaian masalah diatas untuk perbaikan pada siklus II meliputi :
1.      Guru harus lebih mampu membimbing siswa.
2.      Guru memotivasi siswa terlebih dahulu agar siswa terpicu untuk belajar.
3.      Guru memperkenalkan bangun segitiga dan segiempat kepada siswa.
4.      Guru menjelaskan cara menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat serta menggunakannya.
Berdasarkan hasil siklus I yang masih terdapat beberapa kelemahan diantaranya  ketuntasan klasikal siswa belum mencapai batas standart yaitu ≥ 85, ketuntasan klasikal siklus I hanya 58,06 % (dihitung berdasarkan data pretes). Maka peneliti melasanakan siklus II.

Tabel 4.1 Daftar nilai siswa Siklus I
No
Nama Siswa
pretes
postes
1
Ahmad Alwi Harahap
55
60
2
Aji Lazuar
54
60
3
Andi Sanjaya
60
65
4
Aldi Syahputra Manalu
62
67
5
Alpido
67
68
6
David Saragih
80
85
7
Dedy Syahputra
65
66
8
Deny Hastuti
75
77
9
Dicky Ardiansyah Putra
70
74
10
Erwina Munthe
65
68
11
Fajar Al-kausar
57
60
12
Fitri Hayani Rambe
60
63
13
Husni Tambrin Siregar
65
69
14
Indah Sinurat
75
78
15
Junaidi Samosir
65
70
16
Mahyudin Rambe
65
68
17
Miranda Sprayogi
65
67
18
Mula Aman Rambe
70
73
19
Nurjamilah Rambe
65
68
20
Primadani
60
62
21
Rahmat Syahputra
60
63
22
Ricky Promansyah
65
67
23
Rifky Ardyansyah Pohan
55
56
24
Rusiani
70
72
25
Siti Rosida
65
68
26
Suci Cantika Ritonga
55
57
27
Supriono
40
45
28
Yogi Awaludin
65
68
29
Yolanda Kristina
75
77
30
Yuda Ramadani
35
43
31
Yuni Kartika
20
22




























4.1.2 Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II
Mengingat hasil belajar siklus I masih terdapat kekurangan, peneliti mengadakan perulangan pada siklus II agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. a. Tahap perencanaan
Pada tahap perencanaan peneliti menyusun RPP dengan menggunakan pembelajaran metematika realistik dengan memperbaiki kekurangan pada siklus I, menyusun soal tes hasil belajar dan lembar observasi.
b. Tahap Pelaksanaan
Pertemuan pertama (2x40 menit)
Sub materi              : menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat serta menggunakannya dalam masalah’
Hari/tanggal           : Senin 23 Mei 2012
Waktu                    : 7.55 - 9.10 WIB
Tempat                   : Ruang kelas VII A
Pertemuan Kedua (2x40 menit)
Sub materi              : menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat serta menggunakannya dalam masalah.
Hari/tanggal           : Selasa 24 Mei 2012
Waktu                    : 9.10 – 9.50 WIB
Tempat                   : Ruang kelas VII A
Langkah 1 pendahuluan
·         Guru menginformasikan model pembelajaran matematika realistik.
·         Menyampaikan tujuan pembelajaran  dengan memotifasi siswa terlebih dahulu.
·         Membuka pelajaran dengan mengaitkan materi pelajaran sebelumnya
Langkah 2 Kegiatan belajar
·         Guru menyampaikan materi
·         Guru membagi soal tes hasil belajar
·         Memantau siswa mengerjakan soal tes hasil belajar
·         Meminta siswa mengumpulkan hasil kerja siswa
  c. Observasi
Observasi dilakukan untuk  mengamati keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran. Observasi terhadap aktivitas siswa pada penelitian ini meliputi : (1) Siswa menanggapi masalah yang diajukan, (2) Siswa menggunakan kelengkapan belajar yang disediakan guru, (3) Siswa mengemukakan pendapat, (4) Siswa mengajukan pertanyaan, (5) Siswa mengemukakan penyelesaian masalah, (6) Siswa membuat kesimpulan.
 d. Refleksi
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada proses pembelajaran guru dan siswa telah mengikuti langkah-langkah pembelajaran, pada siklus II sudah terdapat peningkatan proses belajar mengajar diantaranya :
1.      Guru sudah mampu membimbing siswa.
2.      Guru sudah mampu dalam memotivasi siswa.
3.      Siswa mampu menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat.
4.      Siswa lebih aktif belajar.
Setelah Siklus II selesai dan peneliti menyimpulkan hasil penelitian bahwa terdapat pengingkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke Siklus II, dan ketuntasan Klasikalnya telah melampaui > 85% maka penelitian telah berhasil, dan penelitian  sampai pada siklus II.
Tabel 4.2 Daftar nilai siswa Siklus II
No
NAMA SISWA
Pretes
Postes
1
Ahmad Alwi Harahap
74
85
2
Aji Lazuar
70
80
3
Andi Sanjaya
75
85
4
Aldi Syahputra Manalu
75
75
5
Alpido
75
90
6
David Saragih
85
100
7
Dedy Syahputra
75
90
8
Deny Hastuti
75
80
9
Dicky Ardiansyah Putra
80
95
10
Erwina Munthe
70
75
11
Fajar Al-kausar
55
60
12
Fitri Hayani Rambe
66
70
13
Husni Tambrin Siregar
70
80
14
Indah Sinurat
80
85
15
Junaidi Samosir
65
75
16
Mahyudin Rambe
53
54
17
Miranda Sprayogi
70
75
18
Mula Aman Rambe
75
80
19
Nurjamilah Rambe
70
75
20
Primadani
65
70
21
Rahmat Syahputra
65
75
22
Ricky Promansyah
70
75
23
Rifky Ardyansyah Pohan
35
62
24
Rusiani
75
90
25
Siti Rosida
75
85
26
Suci Cantika Ritonga
60
75
27
Supriono
58
62
28
Yogi Awaludin
65
80
29
Yolanda Kristina
75
85
30
Yuda Ramadani
74
75
31
Yuni Kartika
68
70





4.1.3. Hasil Perhitungan Skor belajar siswa
            Dari perhitungan data kelas penelitian dengan menggunakan model Pembelajaran Realistik  Siklus I tes awal (pre test) diperoleh rata 61,45 nilai tertinggi 80 nilai terendah 20. Pada postes diperoleh rata-rata 64,71, dengan nilai tertingi 85 dan nilai terendah 22. Pada siklus II pretes diperoleh rata-rata 69,12 Nilai tertinggi 85, nilai terendah 35. Pada postes diperoleh rata-rata 77,84 ; nilai tertinggi 100 ; nilai terendah 54. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 7.

4.1.4. Tingkat penguasaan dan ketuntasan belajar siswa
            Dari data hasil belajar siswa masing – masing ditentukan persentase dari
Pencapaian hasil belajar (PPH) tiap siswa. Setelah persentase tingkat penguasaan siswa dihitung, barulah dicari ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Pada tes awal Siklus I persentase ketuntasan klasikalnya 58,06% dengan jumlah siswa yang tuntas 18 dan 13 siswa yang tidak tuntas. Untuk tingkat penguasaan siswa secara individu (PPH) pada tes awal dapat dilihat pada lampiran 8. Pada siklus I postes persentase ketuntasan klasikalnya 61,29%, dengan jumlah siswa yang tuntas 19 siswa dan yang tidak tuntas 12 siswa. Untuk tingkat penguasaan siswa secara individu (PPH) pada postes siklus I dapat dilihat pada lampiran 9. Pada siklus II pretes persentase ketuntasan secara klasikalnya 83,87% dengan jumlah siswa yang tuntas 26 siswa dan yang tidak tuntas 5 siswa. pada postes siklus II diperoleh persentase ketuntasan klasikalnya 87, 10%, jumlah siswa yang tuntas 27, siswa yang tidak tuntas 4 siswa. Untuk tingkat penguasaan siswa secara individu pada siklus II pretes dan postes dapat dilihat pada lampiran 10 dan 11.

Tabel 4.3 Perbedaan Hasil Penelitian Siklus I dan Siklus II
No
Aspek Pembeda
SIKLUS I
SIKLUS II
pretes
postes
pretes
postes
1
Rata-rata kelas
61,45
64,71
69,13
77,84
2
Jumlah siswa yang tuntas
18
19
26
27
3
Jumlah siswa yang tidak tuntas
13
12
5
4
4
Persentase Ketuntasan Klasikal
58,06%
61,29%,
83,87%
87, 10%,

4.2 Pembahasan hasil Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran matematika realistik pada kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VII SMP pokok bahasan segitiga dan segiempat. Untuk mengetahui efektif tidaknya pembelajaran tersebut, diambil kelas penelitian kelas VII A.
Pada kelas penelitian diterapkan pembelajaran matematika realistik. Pada awal pembelajaran terlebih dahulu guru menjelaskan tujuan dan pendekatan pembelajaran dengan menjelaskan tentang logistik atau kelengkapan yang dibutuhkan serta memberikan motivasi kepada siswa. Kemudian guru memberi permasalahan yang harus diselesaikan oleh siswa yang mereka belum tahu penyelesaian secara formal. Siswa mendiskusikan pemecahan masalah dengan cara coba-coba dan dilakukan secara berkelompok. Siswa kemudian mengumpulkan hasil diskusi dan dikoreksi oleh guru. Salah satu perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusi. Guru memberikan penyelesaian secara formal atau dapat menguatkan jawaban siswa.
Berdasarkan pertemuan I masih terdapat kekurangan selama proses pembelajaran sebagai berikut, kinerja guru dalam pengelolaan pembelajaran belum dilaksanakan dengan baik. Motivasi yang diberikan guru masih terlalu sedikit, peran guru dalam membimbing siswa dalam mengorganisasi tugas-tugas masih perlu ditingkatkan sehingga masih terdapat beberapa kelompok yang belum memahami tugas yang harus diselesaikan sehingga banyak siswa yang bertanya, bercerita sendiri dan tidak aktif dalam kelompoknya sehingga menimbulkan kegaduhan. Dominasi masalah kontekstual dan komunikasi dari guru masih kurang. Pengaitan materi yang disampaikan dengan materi lain dalam matematika maupun materi mata pelajaran lain masih kurang.
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan II sudah lebih baik dari pertemuan sebelumnya. Tetapi motivasi yang diberikan guru masih sedikit. Bimbingan penyelidikan secara individual atau kelompok juga masih perlu ditingkatkan, karena masih ada satu dua orang siswa dalam kelompok yang belum aktif dalam pelaksanaan diskusi. Dominasi masalah kontekstual dan komunikasi dari guru sudah muncul. Pengaitan materi yang disampaikan dengan materi lain dalam matematika maupun materi mata pelajaran lain sudah lebih baik.
Aktivitas siswa sudah semakin baik, sebagian anggota kelompok sudah berbagi tugas. Interaksi antar siswa belum terlaksana dengan maksimal, mereka masih canggung untuk saling bertanya dan menjelaskan dengan teman sekelompoknya sehingga masih sering bertanya kepada guru bila menemui kesulitan. Kemampuan siswa untuk melakukan pemodelan dan membuat model sendiri sudah lebih baik. Respon terhadap pertanyaan guru sudah lebih baik, demikian juga komunikasi dalam kelompok. Kemampuan mereka dalam menghubungkan materi juga sudah berkembang.
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan III menunjukkan peningkatan yang lebih baik daripada pertemuan II. Guru telah menyampaikan tujuan pembelajaran dengan lengkap dan memunculkan masalah dengan sangat baik. Masalah yang disampaikan guru sudah lebih kontekstual. Pengaitan materi yang disampaikan dengan materi lain dalam matematika maupun materi mata pelajaran lain sudah lebih baik. Dalam menyimpulkan materi pada pertemuan III ini, guru masih berperan cukup banyak karena siswa masih kesulitan dalam merangkai kata-kata.
Aktivitas siswa pada pertemuan III juga meningkat dibanding pertemuan II. Aktivitas siswa sudah semakin baik, sebagian anggota kelompok sudah berbagi tugas. Interaksi antar siswa sudah terlaksana dengan maksimal, mereka sudah saling bertanya dan menjelaskan dengan teman sekelompoknya . Kemampuan siswa untuk melakukan pemodelan dan membuat model sendiri sudah lebih baik. Respon terhadap pertanyaan guru sudah lebih baik, demikian juga komunikasi dalam kelompok. Kemampuan mereka dalam menghubungkan materi juga sudah berkembang.
Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan IV menunjukkan peningkatan yang lebih baik daripada pertemuan III. Guru telah menyampaikan tujuan pembelajaran dengan lengkap dan memunculkan masalah kntekstual dengan sangat baik. Masalah yang disampaikan guru sudah kontekstual. Pengaitan materi yang disampaikan dengan materi lain dalam matematika maupun materi mata pelajaran lain sudah baik.
Aktivitas siswa pada pertemuan IV juga semakin meningkat. Aktivitas siswa sudah semakin baik, sebagian anggota kelompok sudah berbagi tugas. Interaksi antar siswa sudah terlaksana dengan maksimal, mereka sudah saling bertanya dan menjelaskan dengan teman sekelompoknya. Kemampuan siswa untuk melakukan pemodelan dan membuat model sendiri sudah baik. Respon terhadap pertanyaan guru sudah lebih baik, demikian juga komunikasi dalam kelompok. Kemampuan mereka dalam menghubungkan materi juga sudah baik.
Suatu proses pembelajaran juga dikatakan efektif apabila seluruh siswa terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan kerjasama siswa dalam kelompoknya. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pun semakin meningkat pada setiap pertemuan.
Pada penelitian ini indikator keberhasila  penelitian sudah tercapai pada pertemuan IV. Walaupun demikian guru masih perlu memberikan penguatan materi dan beberapa soal latihan yang harus dikerjakan secara individual karena siswa harus dilatih untk berfikir mandiri. Ketercapaian indikator penelitian dapat dilihat dengan semakin meningkatnya penguasaan siswa terhadap materi/soal yang diujikan dari pertemuan pertama sampai ke 4, Pada tes awal, tingkat penguasaan siswa secara keseluruhannya masih kriteria kemampuan sedang. Bardasarkan hasil penelitian Tingkat Penguasaan siswa pada Siklus II semakin meningkat dari siklus I. Dari tes hasil belajar Pada siklus I (postes) diperoleh 19 dari 31 siswa (61,29%) yang tuntas mencapai nilai minimum 65 dengan rata-rata kelas 64,71. Pada siklus II (postes) persentase ketuntasan secara klasikalnya 87,10% dengan jumlah siswa yang tuntas 27 siswa dan yang tidak tuntas 4 siswa. Peningkatan dalam proses pembelajaran dapat juga dilihat berdasarkan perhitungan indeks gain pada lampiran 12.

4.3 Temuan Penelitian
            Terdapat beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yang dianalisis dari dua siklus. Temuan dalam penelitian ini adalah :
     1.      Ketika belajar, ada beberapa siswa yang berani mengajukan pertanyaan.
     2.      Ada beberapa siswa yang mau mempersentasekan hasil jawabannya.
     3.      Ada beberapa siswa yang mampu membuat kesimpulan dari materi yang dipelajari.

     4.      pelaksanaan pembelajaran semakin baik, siswa semakin aktif pada siklus II.

No comments:

Post a Comment